Ketika Seorang Hakim Terperdaya oleh Suap

Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Hakim Agung Mahkamah Agung (MA) Sudrajad Dimyati, Jumat 23 September 2022. /Antara/M Risyal Hidayat
Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Hakim Agung Mahkamah Agung (MA) Sudrajad Dimyati, Jumat 23 September 2022. /Antara/M Risyal Hidayat

TUNGKAL, Jambiseru.com – Ketika seorang hakim di Indonesia yang seharusnya menegakkan sebuah keadilan, malah dijadikan sebagai tersangka karena terlibat dalam kasus suap.

Gelar yang disematkan terhadap seorang hakim itu muncul lantaran setiap putusannya wajib mencantumkan irah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”, sesuai dengan Pasal 2 Ayat 1 UU No. 48 tahun 2009 tentang Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman.

Bacaan Lainnya

Putusan seorang hakim tidak memiliki nilai apa-apa atau non-executable, apabila tanpa irah-irah tersebut.

Artinya, dalam mengemban tugas seorang hakim tidak hanya sekadar bertanggung jawab pada hukum, pada diri sendiri, atau pada pencari keadilan, namun tugasnya juga harus mutlak untuk bertanggung jawab kepada Tuhan sebagai sang pencipta dan pemilik hukum.

Baca Juga : “3 Kapal Pendeteksi Bawah Air Dikerahkan Mencari 3 Kru Helikopter Polri

Seorang hakim pada hakikatnya hanyalah sebagai kepanjang-tanganan Tuhan, untuk menetapkan sebuah hukum.

Tetapi, orang yang seharusnya menegakkan sebuah keadilan selaku ‘Wakil Tuhan’, malah melakukan tindakan yang menodai status pekerjaannya.

Dikutip dari laman Pikiran-rakyat.com (jaringan Indonesiadaily.co.id – partner Jambiseru.com), dari judul artikel “Kala ‘Wakil Tuhan’ Terjerat Kasus Suap”, masih hangat berita Hakim Agung, Sudrajad Dimyati (SD) yang ditetapkan sebagai tersangka dugaan suap di tubuh Mahkamah Agung (MA) dan ditahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

KPK menduga bahwa Sudrajad melalui rekan menerima 202 ribu dolar Singapura atau sekitar Rp2,2 miliar.

Selain Sudrajad Dimyati, KPK juga tetapkan 5 tersangka lain yang berperan sebagai penerima suap diantaranya Hakim Yustisial/Panitera Pengganti MA Elly Tri Pangestu (ETP), dua PNS Kepaniteraan MA Desy Yustria (DY) dan Muhajir Habibie (MH), serta dua PNS MA Nurmanto Akmal (NA) dan Al Basri (AB).

Pos terkait